Pasien
Suara derap sepatu, obrolan ibu-ibu dan anak kecil berlarian, semua tercampur aduk mengisi ruang tunggu rumah sakit itu. Namun, itu tak berlangsung hingga petang. Semua terasa mencekam. Hal itu dirasakan olehku, seorang perawat yang baru saja bekerja di rumah sakit terkenal di sebuah kota.
Hari ini adalah hari pertamaku bertugas malam bersama temanku, Devi. Meja kami terletak di tengah-tengah lorong rumah sakit. Lorong yang sunyi dengan lampu yang sedikit redup, membuat rasa ketakutanku sedikit bangkit. Aku mencoba mengajak berbicara temanku untuk mengusir rasa takut yang semakin lama semakin menjadi.
“Kamu udah berapa lama kerja disini? Biasanya kalo shift malam begini ngapain?”
“Hmm… baru 2 tahun sih. Biasanya kita cuma cek infus sama tekanan darah aja”, jelas Devi
“Udahlah, nanti kamu juga tau kok”, lanjutnya
Obrolan kami terhenti ketika teringat beberapa data pasien yang harus kami laporkan. Kami fokus di depan komputer demi menyelesaikan data yang bertumpuk-tumpuk. Kami tak sadar hingga tengah malam. Konsentrasiku pecah ketika mendengar suara roda yang beradu dengan dinginnya lantai koridor itu. Suara itu semakin kencang hingga aku melihat seorang pasien dengan pakaian berwarna putih khas rumah sakit, berdiri di depan meja perawat dengan membawa tiang infusnya. Aku tak bisa melihat wajahnya karena tertutup dengan helaian rambut. Terlihat jelas ia sangat tinggi.
“Ada apa bu? Ada yang bisa kami bantu?” tanyaku sambil mencoba melihat wajahnya
Pasien itu tetap diam. Tak mengeluarkan sepatah kata pun. Karena
kewajiban dan prosedur rumah sakit, aku mencoba memperhatikannya. Aku
melihat botol infusnya yang kosong. Bagaimana bisa seorang perawat
membiarkan botol infus pasiennya kosong. Dan mengapa ia tidak lapor pada
perawat yang berjaga tadi siang sebelum infusnya benar-benar habis.
Karena merasa tidak enak hati, aku pun mencoba berbicara dengannya.
“Ibu, kenapa botol infusnya sampai kosong begini? Kenapa tidak lapor
dengan perawat tadi siang?”, tanyaku
Pasien itu tetap tak menjawab pertanyaanku. Aku berusaha menanyakannya
berkali-kali namun tetap saja tak ada jawabannya. Aku ingin Devi yang
mencoba menanyakannya, namun aku tak mau konsentrasinya hilang karenaku.
Aku berdiri dan berjalan menghampiri pasien itu.
“Ayo bu, saya bantu ganti botol infusnya”, ajakku padanya.
Tak satupun kata yang keluar dari mulutnya. Agak sebal rasanya ketika
berusaha baik dan menanyakannya tetapi tak dijawab sedikitpun. Rasa
sebalku berkurang ketika sadar bahwa itu adalah kewajiban seorang
perawat.
Kucoba tanya sekali lagi padanya. “Ibu di ruang berapa? Ayo saya antar. Sekalian mengganti infus”
“Disana. Di ujung koridor” jawab pasien itu dengan suara yang serak.
Senang rasanya ketika ia menjawab pertanyaanku. Tanpa berpikir lama,
akupun mengantarnya ke ruangan di ujung koridor. Saat berjalan menuju
ruangan di ujung koridor, aku mencoba mengajaknya berbicara agar keadaan
tak terasa canggung.
“Ibu ditunggu dengan siapa malam ini? Kok ibu jalan sendirian ke meja kami?”, tanyaku.
Seperti sebelumnya, tak menjawab pertanyaanku. Aku berusaha menuntunnya
dengan cara memegang tangannya. Terkejutnya aku ketika menyentuhnya.
Dingin seperti es batu dan tangannya yang sangat kurus, bahkan dengan
jelas terlihat urat-uratnya. Dalam buku yang kupelajari saat kuliah,
sudah pasti kondisi pasien ini memprihatinkan.
“Bu, kalau infusnya habis atau butuh bantuan lain, jangan sungkan
untuk lapor ke kami. Botol infus jangan sampai kosong, karena sangat
berpengaruh dengan kesehatan ibu”, ucapku sambil tersenyum.
Ia pun tersenyum sangat lebar padaku. Tapi senyuman itu terasa menyeramkan bagiku.
Kami melihat seorang ibu keluar dari kamar rawat inap. Ia berjalan
menghampiri kami. Saat kami berpapasan, ia mengatakan sesuatu hal yang
sama sekali tidak kumengerti.
“Berbaliklah. Jangan kesana.”, ucapnya dengan suara serak.
Aku memutar kepalaku saat ia melewatiku. Aku berpikir keras mencerna
kata-katanya. Aku langsung melihat pasien itu. Tanpa berlama-lama lagi,
aku langsung mengantar pasien itu untuk segera mengganti botol infusnya.
Ketika kami sampai di depan ruangan ujung koridor, betapa herannya aku melihat debu dan kotoran di depan pintu, seakan ruangan itu tidak pernah ditempati. Kami masuk ke ruangan itu. Sama seperti di depan pintu ruangan ini, semuanya berdebu tanpa terkecuali. Bahkan kasur pasiennya juga terlihat kotor.
“Botol infus yang barunya dimana bu?”, tanyaku.
Pasien itu tetap saja diam. Aku berusaha mencari botol infus yang baru
di laci meja disamping kasur pasien. Timbul berbagai pertanyaan di dalam
pikiranku. Bagaimana bisa seorang pasien sendirian dengan botol infus
yang kosong dan ruangan yang bisa dikatakan tak layak untuk ditempati.
Terlalu lama mencari, akhirnya aku memintanya untuk tunggu, sedangkan
aku ambil botol infus baru di meja perawat.
Aku kembali melewati lorong yang dingin dan redup itu. Entah mengapa aku teringat ucapan seorang ibu yang tadi kutemui di lorong. Rasa penasaran dan takut muncul di dalam diriku. Ingin rasanya bertemu dengannya dan menanyakan apa maksud dari ucapannya itu. Keinginanku tak bisa terpenuhi karena aku tidak bertemu dengannya untuk kedua kali. Aku berjalan seolah koridor ini tak berujung. Terasa lama dan ditemani udara dingin yang menusuk tulang.
Akhirnya aku sampai di meja perawat. Aku menanyakan stok botol infus
pada Devi, yang sejak tadi tak berpindah posisi dari depan komputer. Ia
bertanya mengapa aku pergi sendirian dan tidak memberitahukannya.
“Kamu darimana aja? Kenapa gak bilang?”
“Aku habis antar pasien yang tadi kesini. Botol infusnya sampai kosong gitu”, jawabku.
“Pasien yang mana? Tadi ga ada siapa-siapa kok, makanya aku tanya kamu”
“Masa sih? waktu kita ngerjain laporan, ada pasien yang kesini. Aku
tanya diam saja. Kulihat botol infusnya kosong, belum diganti”, kataku.
Devi terlihat bingung dengan apa yang kukatakan. Ia memasang wajah
serius dan memandangku selama beberapa menit. Kemudian, ia menanyakan
beberapa pertanyaan padaku.
“Terus, kamu nanya kita punya stok botol infus buat apa? Buat pasien itu juga?”
“Iya, karena saat kutanya dimana botol infus yang baru, pasien itu gak
jawab. Aku juga udah cari-cari di laci mejanyanya gak ada”, jawab ku.
“Aneh. Biasanya setiap pasien udah beli botol infus sendiri. Jadi, tinggal diganti aja”, ucap Devi
“Pasien yang mana yang kamu bilang?”
“Pasiennya perempuan, rambutnya panjang dan badannya sangat kurus.”
“Masa sih? Di ruangan mana memangnya?.”
“Itu, kamar yang diujung lorong itu. Kamu pasti tau kan?” tanyaku sambil menunjuk
“Hey…”
“Kenapa?”
“Kamar itu. Sudah lama tidak ada pasiennya”
Yang diucapkan oleh Devi membuatku diam mematung. Seketika angin berhembus dan tanpa sadar, wajah kami memucat.
Cerpen Karangan: Nymouse
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-horor-hantu/pasien.html
Komentar
Posting Komentar