Cinta Terlarang
BRAKKK!!!
Rabu pagi yang cerah itu dikejutkan dengan suara ribut-ribut dari
kantinnya Bu Asih. Suasana kantin yang asalnya riuh rendah, penuh dengan
celotehan anak-anak SMA 3 Palangka Raya tiba-tiba mendadak menjadi
sunyi senyap. Semua aktivitas yang mereka lakukan berhenti begitu saja.
Pandangan mereka hanya tertuju pada seseorang cewek yang telah membuat
keributan di tempat itu.
“Aduh neng gelis… jangan marah-marah di sini atuh, ini teh kantin, bukan
tempat pelampiasan amarah, nggak enak dilihat sama yang lain…”. Tegur
Bu Asih dengan logat sundanya yang kental
“Masa bodo!!!”. Ucap cewek itu sambil memukul meja.
“Iya degh neng.. maapin ibu…”. Ucap Bu Asih.
“Nasi goreng satu plus fruit tea!!! cepat… gak pake lama!!!”. Ucap cewek itu.
“iya neng…”. Ucap Bu Asih.
Cewek itu bernama Vena. Dia cantik, dan pintar. Dia anak SMA 3 kelas XI-1 Ipa. Sebenarnya dia sangat ramah, tapi kalau dia marah… sifat dan tingkahnya berubah 180 derajat. Cewek yang satu ini kalau lagi nggak ada masalah feminiiimmm banget, tapi kalau sudah marah… wahhh tomboy abiezzz!!!. Cewek ini juga seorang atlet TaeKwonDo Palangka Raya.
“Napa sih… pagi-pagi gini udah buat masalah? pasti ada something yang terjadi antara kamu dengan Willy..”. Ucap Friska dingin.
“Dasar cowok kurang ajar!!! nggak ngerti perasaan cewek!!! egois!!”.
Ucap Vena, dan tanpa sengaja Willy yang berada di belakangnya mendengar
ucapan Vena.
“Hei Vena… jangan seenaknya aja ngatain aku egois!!! kamu tuh yang egois!!!”. Ucap Willy.
“Aku?… gak salah tuh?, bukannya kamu macari aku cumin gara-gara pengen nyari tenar aja? udah deh… ngaku aja loe!!!”. Ucap Vena.
“Emang!!! kalo udah tau nggak usah buat ribut donk!!!. lagi pula aku sekarang aku nggak butuh kamu lagi kok…”. Ucap Willy.
“Heh.. kalian itu, nyadar donk!!! ini kantin bukan tempat berantem.
Bikin malu aja!!!. Kalian berdua itu OSIS, emang ada OSIS yang nyontohin
nggak baik kayak gini, berantemnya gara-gara cinta lage!!! dasar!!!,
Angga… cepet bawa temen kamu itu pergi!!!”. Ucap Friska dengan tegas.
“Dasar loe… cowok kurang ajar!!!”. Teriak Vena.
“Sudah!!! jangan ribut lagi!!”. Ucap Friska.
Hari itu, semenjak ia putusan dengan Willy, lena lebih memilih diam.
Padahal tadi pagi ia marah-marah gak karuan. Saat rapat OSIS tadi sore
juga, ia lebih memilih menatap Friska, sahabatnya yang merupakan ketua
bidang olahraga. Cewek yang tomboynya bukan main itu adalah atlet
nasional karate. Rambutnya aja cepak, plus sikapnya tomboy bukan main.
Friska balas menatap sahabatnya yang secara tidak langasung menyiratkan
rasa kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
“Baiklah teman-teman, kita tutup rapat ini. Selamat sore..”. Ucap Fery, sang ketua OSIS.
“Udah donk sob, jangan sedih mulu, cowok tuh banyak, nggak Cuma Willy
aja, gak enak tau di liat orang mukanya kusut kayak belum di setrika
gitu.. bawa fun aja lagi, hidup tuh jangan selalu memikirkan masa lalu,
fikirkan aja apa yang akan kita jalani and kita lakukan di masa sekarang
and di masa yang akan datang”. Ucap Friska menasihati Vena saat rapat
telah usai.
“Hmm… iya juga sih.. thanks ya sob.. kamu sahabatku yang paling baik sedunia…” Ucap Vena.
“Pulang yuk… udah senja nih.. Ntar malam kita jjm yukk.. aku yang jemput…”. Ucap Friska.
“OK…”. Ucap Vena.
Malam itu langit kota Palangka Raya tampak cerah, bertabur bintang dan berhias bulan. Vena sudah sedari tadi siap, dan ia hanya menunggu kedatangan Friska. Ia mengenakan T-Shirt warna ungu kesukaannya, jins panjang ketat berwarna hitam, dengan rambutnya yang diikat membentuk seperti ekor kuda.
Tepat pukul tujuh malam, Friska akhirnya datang juga. Dengan gayanya
yang tomboy, ia lebih mirip cowok ketimbang ia menjadi cewek. Baju
lengan pendek berkerah, celana jins belel, rambut cepak, jaket hijau
lumut kesukaannya dan sepatu kets putih, membuatnya terlihat sangat
kelaki-lakian.
“Wowww… tomboy banget sih loe…”. Ucap Vena pada Friska.
“Biasa aja kaleee.. nggak usah lebay kayak gitu… cepetan naik!!!”. Ucap Friska.
“Ok deh..”. Ucap Vena.
“Mmm… non, mau kemana?”. Gurau Friska pada Vena.
“Kemana aja deh pak…”. Ucap Vena.
Segera saja Friska menghidupkan mesin motornya dan pergi meninggalkan komplek Perumahan Ramah Jaya, tempat di mana Vena dan kedua kakak perempuannya tinggal. Vena memang sejak awal masuk SMP sudah tinggal bersama kedua kakak perempuannya. Namun, tiap seminggu dua kali, kakak laki-lakinya yang merupakn kakaknya yang paling tua datang mengunjungi mereka. Vena merupakan anak keempat dari empat bersaudara, alias anak bungsu. Sedangkan kedua ortunya Vena bekerja di perusahaan keluarga milik mereka yang berada di singapura, tempat kakeknya vena dari pihak ibu berasal.
Namun tanpa diketahui oleh Vena, sudah sejak lama sahabatnya, Friska,
memendam sebuah perasaan terlarang. Perasaaan yang tidak bisa diterima
oleh sebagian besar manusia.Diam-diam Friska menaruh hati pada Vena.
Memang, Friska sejak dua tahun ini punya perasaan terlarang itu. Dan
selama dua tahun ini ia mempunyai pacar seorang cewek. Tidak ada satu
orang pun yang tahu kalau Friska adalah cewek les*ian, termasuk ortu dan
sahabatnya, Vena.
Semenjak Vena putusan dengan Willy, Friska menunjukkan sikap yang jauh
berbeda dari biasanya. Perhatian dan kasih sayang yang di berikannya
kepada Vena melebihi perhatian dan kasih sayang sebagai sahabat.
Hari-hari mereka jalani berdua dengan penuh keakraban. Tanpa diduga,
dan tanpa diketahui mengapa, perlahan namun pasti, Vena juga mulai
merasakan perasaan yang tak wajar. Vena mulai ada rasa dengan Friska,
seperti Friska menaruh perasaan kepada Vena. Cinta terlarang itu
perlahan mulai menghiasi hari-hari mereka berdua. Hingga akhirnya, saat
mereka sedang jalan-jalan di taman kota, Friska mengungkap semua
perasaannya pada Vena.
“Ven…”. Ucap Friska.
“Ya…”. Sahut Vena.
“Seandainya aku mengatakan sesuatu yang mungkin nggak bisa diterima oleh
akal sehat, apa kamu masih mau menjadi sahabatku?”. Tanya Friska.
“Pastinya donk.. emangnya ada apa Fris?”. Tanya Vena.
“Hmmm… sebenarnya aku cewek les*ian…”. Ucap Friska setelah beberapa
detik ia terdiam sambil menatap lekat-lekat cewek di depannya yang
merupakan sahabatnya sekaligus orang yang di cintainya.
“Kamu…”. Ucap Vena yang tak sanggup meneruskan perkataannya.
“Hhh… ya, itulah kenyataan tentang diriku yang selama dua tahun ini ku
tutup-tutupi dari kalian semua termasuk dengan ortu ku. Sekarang,
terserah kamu aja apa kamu masih mau bersahabat dengan aku”. Ucap
Friska.
“Aku tetap mau bersahabat denganmu…”. Ucap Vena setelah ada jeda cukup panjang di antara mereka.
“Thanks…”. Sahut Friska.
Hening kembali muncul di antara mereka berdua. Tak ada sepatah
katapun keluar dari mulut mereka berdua. Mereka terlarut dalam
fikirannya masing-masing. Hingga akhirnya…
“Aku menginginkanmu…”. Ucap Friska pada Vena.
“Apa? maksud kamu apa?”. tanya Vena tak mengerti.
“Aku cinta kamu, sudah lama aku memendam perasaan ini…”. Jawab Friska.
“Beneran?”. Tanya Vena tak percaya.
“Beneran…”. Sahut Friska.
“Owh… aku… aku juga menginginkanmu… entah mengapa dan kenapa perasaan
ini datang begitu saja dan mulai menghiasi hatiku…”. Ucap Vena.
“So…”. Ucap Friska.
“Kita pacaran!!!”. Ucap mereka berdua bersamaan.
Keanehan gaya dan bahasa tubuh mereka lama kelamaan mulai di rasakan oleh teman-teman mereka. Sikap Friska dan Vena dari hari ke hari semakin berubah.Beberapa orang siswa dan siswi di kelasnya mulai curiga. Bahkan ada yang berani bilang kalau mereka cewek les*ian dan mereka sedang menjalin cinta terlarang. Cinta yang dibilang sangat terlaknat. Beberapa anak juga ada yang prihatin dengan mereka. Termasuk Ivan yang sudah sejak lama menaruh perasaan pada Vena. Namun Friska dan Vena tak sedikitpun menggubris semua itu.
Ivan sama sekali tak bisa membiarkan kedua sahabat itu mejalin cinta terlarang, karena ia tak mau kedua sahabat itu semakin susah untuk berhenti menjadi les*ian. Ia tak habis fikir dengan kedua cewek itu, masih banyak aja laki-laki kok malah pacaran sama sesama.
Malam minggu yang basah itu, Ivan mengirim sms kepada Vena untuk
menanyakan apa benar yang teman-teman mereka katakan, bahwa Vena dan
Friska menjalin hubungan yang terlaknat itu. Ivan malah berharap kalau
itu semua hanya gossip belaka. Namun betapa terkejutnya Ivan saat
mendengar perkataan dan semua itu adalah benar apa adanya.
Ivan memutuskan untuk menelpon Vena.
Deringan lagu Zivilia – Aishiteru terdengar dari ponselnya Vena. Vena yang asyik berfacebook ria di notebooknya terkejut mendengar nada dering itu berbunyi. Nada dering yang sengaja ia programkan sebagai pertanda bahwa cowok yang ia sukai menelponnya.
Sedetik kemudian ia memencet tombol hijau di hpnya. Kemudian mereka asyik mengobrol tentang apa yang terjadi pada diri mereka selama ini. Memang, sudah tiga bulan terakhir ini mereka nggak ada kontak lagi. Bukannya nggak ada kontak, tapi Vena tidak mau menjawab semua telpon dan sms dari Ivan. Karena Vena sakit hati mengetahui Ivan jadian dengan Liana. Hingga akhirnya Willy datang menghapus luka di hati Vena. Namun bukannya menghapus luka di hatinya Vena, tapi Willy malah menjadikan Vena sebagai boneka yang ia manfaatkan untuk memperoleh ketenaran di SMA 3 Palangka Raya.
Sedetik kemudian Vena terdiam, tak disangkanya kalimat itu terucap
dari mulut seorang Ivan. Kebimbangan merasuk dalam fikirannya Vena.
Sebenarnya ia masih ingin melanjutkan hubungannya dengan Friska, tapi di
sisi lain ia sangat masih mencintai Ivan. Selain itu, ia juga tau bahwa
yang selama ini dijalaninya dengan Friska adalah suatu perbuatan yang
dilarang oleh hukum agama dan takdir. Kehadiran Ivan di malam basah itu
memberikannya kedamaian sekaligus kebimbangan.
“Aku tunggu jawabanmu besok… good night”. Ucap Ivan.
Setelah mengakhiri sambungan telponnya dengan Ivan, Vena segera menelpon Friska untuk memberitahukan semua itu.
“Halo say… ada apa?”. Ucap Friska.
“Aku nggak tau harus milih kamu atau Ivan, barusan Ivan nembak aku..”. Ucap Vena.
“Up to you lah mau milih siapa, semua tergantung sama kamu”. Ucap Friska.
“Mmm… sudah aku putuskan, kita akhiri semua ini sampai di sini. Cinta
ini adalah cinta terlarang. Maaf ya… ini semua adalah yang terbaik…”.
Ucap Vena.
“Ya… met malam”. Ucap Friska langsung menutup pembicaraan mereka.
Sesaat kemudian, masuk sms dari Friska.
To : Vena
From : Friska
Ini aq, bukan mau q. Inilh aq yg sbenarx. Klo bnr aq m’punyai prasa’n
t’lrank ini knp? ap klian rugi? Aq thu cinta yg k tu pux ini cnt
terlarang. Tp klian gk berhak m’atur hdup q. Krn aq yg m’jlani smua ini,
bukan klian. Smua hanya bsa m’nyalahkan q tanpa bsa m’ngerti prasaan q.
Inilah aq. “AKU CEWEK LES*IAN”.
Sejak saat itu, Vena lebih memilih diam daripada bertegur sapa dengan
Friska. Ia sedih sekaligus bangga. Sedih karena ia harus mangakhiri
hubungannya dengan Friska, bangga karena ia tahu, keputusan yang ia
ambil ini sangat benar. Friska juga memilih untuk diam. Ia nggak tahu,
mau di kemanakan hubungannya dengan Vena.
Hujan lagi-lagi mengguyur kota Palangka Raya malam itu. Suasana dingin
yang menusuk tulang membuat Friska enggan kumpul-kumpul dengan
teman-temannya unutk main bilyard. Ia hanya duduk termenung di depan
meja belajarnya sambil menatapi foto-foto saat ia masih normal seperti
cewek lainnya. Ia kemudian mengambil foto yang sangat di bencinya dari
laci meja belajarnya.
Ingatan Friska kembali ke masa lalunya. Di saat ia masih bisa merasakan indahnya pacaran dengan lawan jenisnya. Namun semua itu berubah setelah kejadian yang sangat membuatnya trauma itu terjadi. Kejadian yang terjadi diluar kehendaknya dan tanpa sepengetahuannya. Sejak saat itu ia bukan lagi seorang wanita suci. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja ia menemukan dirinya di kamarnya tertidur tanpa busana setelah ia berjalan-jalan dengan Deni, kakak kelas XII-IPS 2, yang baru saja lulus tahun ini. Padahal seingatnya, ia masih berada di taman bersama Deni. Sejak saat itulah ia berubah drastis seperti ini.
Lantunan lagu The Virgin – Cinta Terlarang berbunyi dari ponselnya
Friska. Ia mengambil hp nya dari kantong celananya. Dan alangkah
terkejutnya saat ia tahu Vena menelponnya. Sedetik kemudian, Friska
meletakkan kembali foto laki-laki yang sangat di sayanginya sekaligus
sangat dibencinya di dalam laci meja belajarnya. Dan ia segera
mengangkat telpon itu.
“Halo…”. Terdengar suara cewek di seberang sana.
“Ya… ada apa?”. Ucap Friska dingin.
“Maafin aku…”. Ucap Vena.
“Kamu nggak salah kok…”. Ucap Friska.
“Mmh… kita masih sahabatan kan?”. Tanya Vena.
“Ya… maaf aku lagi sibuk, aku janji suatu hari nanti aku akan berubah…”.
Ucap Friska dan ia segera memutuskan hubungan telponnya dengan Vena.
“Fris…”. Ucap Vena, namun sayang, sambungan telponnya telah terputus.
Vena tertegun setelah mendengar ucapan Friska. “Suatu hari nanti akku
akan berubah…”, apa maksudnya?. Ia kembali menelpon Friska. Tapi
ternyata nomernya Friska tidak aktif.
Langit Palangka Raya masih saja menangis. Kilat dan petir manghiasi malam kelabu itu. Namun di balik semua itu, seorang cewek tomboy tampak tersenyum. Hari ini ia mengalami suatu kejadian yang sangat berkesan di hatinya. Akhir dari percintaan terlarangnya dengan sahabatnya. Dan cewek itu rupanya telah memutuskan untuk pergi dari semua kehidupannya di Palangka Raya.
Vena kaget setengah mati mengetahui Friska akan pindah ke Singapura,
menyusul mamanya yang sedang tugas di sana. Singapura adalah kampung
halamannya Friska, ia tinggal di Palangka Raya karena mengikuti papanya
yang pindah tugas di Indonesia. Vena baru saja mendengar kabar itu dari
Ivan, cowok yang sekarang ini menjadi pacarnya. Memang sejak kemarin
Friska tidak hadir sekolah. Saat Vena menanyakan alasan ketidak
hadirannya di sekolah melewati telpon, ternyata nomernya masih tidak
aktif. Tapi ia tak menyangka bahwa Friska akan kembali ke kampung
halamannya.
Friska menatap rumahnya dengan sedih. Rumah itu penuh kenangan bersama
ia dan Vena. Setelah puas menatap rumah kesayangannya, ia segera
menyusul papanya yang telah menunggunya di mobil.
Tepat pukul 15.00 Friska sampai di bandara. Kurang lebih setengah jam lagi ia akan berangkat. Ia teringat pada sahabatnya sekaligus orang yang di cintainya. Ia ingin sekali bertemu dengan Vena untuk yang terakhir kalinya. Sedetik kemudian, Friska mengambil hp nya dan menelpon Vena.
Vena terkejut melihat sebuah nama yang sangat ia sayangi menelponnya.
Ia segera mengangkatnya, Berharap agar apa yang dikatakan Ivan bukanlah
sebuah kenyataan.
“Kalau mau bertemu aku untuk yang terakhir kalinya, segera saja ke
bandara sekarang juga, atau selamanya kamu tidak akan bertemu aku
lagi…”. Ucap Friska.
“Fris…”. Ucap Vena tak sanggup menahan kesedihan.
“Sore…”. Ucap Friska segera mematikan telponnya.
Vena segera mengambil jaketnya dan dengan penampilan yang sederhana, ia segera berangkat menuju bandara.
Sesampainya di bandara, Vena bergegas pergi ke bagian informasi dan
mendapati Friska sudah menunggu di sana. Rasa senang sekaligus sedih
terpancar dari wajah mereka berdua.
“Fris… kenapa kamu pergi…”. Ucap Vena sambil meneteskan air mata.
“Papaku udah selesai tugas, jadi mau nggak mau aku harus kembali ke Paris.”. Ucap Friska.
“Ohh… Friska… kenapa ini semua harus terjadi…”. Ucap Vena sambil
menangis di balik pelukan Friska. Saat itu gelora cinta terlarang mereka
kembali merasuk ke dalam jiwa. Rasa kehilangan yang sangat berat hadir
dalam hati mereka.
“Aku masih menginginkanmu…”. Ucap Friska.
“Aku juga”. Ucap Vena.
“Apa kamu mau kembali…”.
“Tidak, itu tidak mungkin, perasaan kita ini perasaan yang terlarang,
kita tidak akan mungkin kembali walaupun sebenarnya aku juga ingin
kamu…”. Ucap Vena sambil menangis.
“Ya… aku mengerti…”. Ucap Friska dingin.
“Udah ah… jangan nangis… cengeng banget sih…”. Ucap Friska pada Vena.
“Biarin!!!”. Ucap Vena.
“Nih buat kamu…”. Ucap Friska sambil memberikan kalung dan sebuah cincin bertuliskan F dan V.
“Cincin dan kalung ini jangan sampai hilang, ntar kalau kita ketemu lagi
dan aku tau kalau kalung and cincin itu hilang… Awas kau!!”. Sambung
Friska.
“Please… jangan pergi…”. Lirih Vena.
“Mungkin ini yang terbaik… selamat tinggal…”. Ucap Friska.
Dan untuk terakhir kalinya mereka kembali berpelukan. Air mata Vena
mengalir semakin deras, hingga membasahi punggungnya Friska. Dan setelah
puas berpelukan, Friska pergi meninggalkan Vena, menyusul papanya yang
sudah menunggunya di dekat pintu masuk.
Friska kembali menoleh ke belakang sebelum memasuki pintu masuk. Ia
masih melihat seorang cewek menangis melepas kepergiannya. Friska
melontarkan senyumnya, namun air mata cewek itu malah semakin mengalir
deras. Dan Friska kembali melangkah memasuki pintu masuk.
“Maafkan aku… inilah yang terbaik untuk kita, semoga kamu bahagia dengan cowok lain…”. Ucap Friska dalam hati.
“Sayang… ku tak ingin kau pergi…”. Ucap Vena dalam hati.
Di suatu Negara nan jauh di sana, seorang cewek tomboy tampak berdiri
menatap keluar dari balik daun jendela kamarnya. Di sana, hujan turun
dengan sangat lebat.
“Semoga kamu bahagia di sana tanpa diriku. Aku ‘kan tetap menjaga
perasaan terlarang ini untukmu… karena aku mencintaimu. Aku tak peduli
perasaan yang ku punya ini terlarang. Sesungguhnya hati ini sangat berat
meninggalkanmu. Tapi inilah yang terbaik untuk kita”. Ucap Friska.
Langit Palangka Raya tak secerah biasanya. Rintik-rintik hujan
menghiasi kota itu. Seakan ikut bersedih melihat kedua sahabat itu
berpisah.
“Aku merindukanmu… cinta terlarang ini akan ku jaga sampai kita bertemu
kembali”. Ucap Vena sambil memandangi dedaunan yang basah akibat terkena
tangisan langit malam ini.
~ Sebuah perasaan akan datang dengan sendirinya. Cinta terkadang dapat menjerumuskan. Jangan menganggap seseorang yang mempunyai perasaan terlarang seperti sampah yang harus di jauhi, tapi buatlah dia menjadi sadar dengan cintanya itu. Mengertilah pada perasaan mereka. Dan buatlah mereka mengerti pada kodrat hidup yang sebenarnya ~
Cerpen Karangan: Fanka Dhea
Facebook: Panda Cchubby Holic
Komentar
Posting Komentar